9th Jul, 2007

400 Mading Pecahkan Rekor Muri

Pameran majalah dinding yang digelar Surat Kabar Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Bulaksumur di area bulevar kampus UGM, Minggu (8/7), memecahkan rekor Muri sebagai mading terbanyak. Tercatat 400 mading karya pelajar dan mahasiswa dipajang dalam pameran itu.

Jumlah majalah dinding (mading) itu jauh lebih banyak dari catatan rekor sebelumnya, yakni 229 mading, yang dipegang harian Jawa Pos tahun 2003 di Surabaya. Karena itu, menurut Ari Andriani dari lembaga Muri, mading terbanyak ini layak masuk dalam rekor Muri dan tercatat dengan nomor rekor 2.631. Piagam penghargaan diserahkan Muri yang diwakili Ari Andriani kepada Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UGM Chairil Anwar.

Ketua panitia lomba dan pameran mading bertajuk “Mbeber Ekspresi”, Maharani Ratna Pambayun, menuturkan, acara pemecahan rekor yang digelar untuk memperingati ulang tahun ke-16 SKM UGM Bulaksumur itu diawali dengan lomba mading tingkat SMP, SMA, mahasiswa, dan umum. Pengumpulan mading dilakukan 18 Juni-3 Juli.

“Mading dari para peserta lomba itulah yang dipamerkan dalam pemecahan rekor ini. Peserta sendiri ada sekitar 150 kelompok. Setiap kelompok bebas mau mengumpulkan berapa mading. Terkumpul 400 buah,” katanya.

Lomba

Maharani menuturkan, lomba dan pemecahan rekor itu bertujuan menggalakkan budaya menulis di kalangan pelajar dan mahasiswa sekaligus untuk mengenalkan dunia jurnalistik mading. “Mading itu sesuatu yang menarik, mudah tetapi memerlukan kreativitas untuk membuatnya. Menulis di mading bisa dengan gaya santai, tidak perlu sangat serius, sederhana saja bisa,” katanya.

Ia menuturkan, berdasarkan pengamatan yang dilakukan, dunia mading saat ini cenderung lesu. Meski beberapa kali lomba mading sudah digelar, ini belum berdampak signifikan membangkitkan dunia mading di sekolah dan di perguruan tinggi. “Kami ingin membuat acara yang berbeda. Selama ini lomba mading kurang gereget. Nah dengan acara seperti ini diharapkan bisa lebih luas cakupannya sehingga akan bisa mendorong pelajar dan mahasiswa selalu mengingat mading,” tuturnya.

Chairil Anwar berharap pemecahan rekor dapat memberikan semangat bagi pelajar dan mahasiswa untuk aktif dalam dunia tulis-menulis dan jurnalistik. “Selama ini kita kan lebih banyak budaya lisan bukan menulis dan membaca. Budaya menulis perlu digalakkan,” ungkapnya. (RWN)

Sumber: Kompas, 9 JuliĀ  2007

Responses

di link masukin link permas FE UGM donk, anak2 EQ, kalo bisa web21 ini bukan cuma isinya anka-anak bulkasumur/balairung tapi juga persma tingkat fakultas di seluruh UGM gitu….OK OK

Saya anggota ekskul mading dari sman 7 tangerang, saya juga merasa kalau dunia mading sedang lesu. Saya sedang berencana mengadakan lomba mading tingkat sma se tangerang. Kalau bisa saya minta sarannya bagaimana agar acara itu berhasil. Juga, saya juga minta informasinya jika ada lomba mading. Terima kasih

bagaimana supaya motivasi anak2 anggota mading di SMP dan SMA Global Mandiri bisa maju?
anak2 merasa karya mereka tidak memiliki nilai jual, sehingga seakan2 mereka percuma membuat karya tersebut. minta sarannya dungg bagaimana/ nilai jual apa kira2 yang bisa dihasilkan dari mading tersebut? tema yang seperti apa? tampilannya juga yang seperti apa? lalu bagaimana kalau tiba2 mading yang sehari baru kita pasang kena hujan dan rusak, apakah kita membuat lagi hal yang sama atau memasangkan lagi yang rusak tersebut?
terima kasih, di tunggu jawabannya ya…

Leave a response

Your response:

Categories