NURAINI JULIASTUTI
Tulisan ini dibuat guna memotret gerak anak muda pada masa sebelum reformasi dan perubahan di wilayah kreativitas yang terjadi pada tahun-tahun setelahnya. Fokus tulisan adalah pada media alternatif yang dikerjakan oleh anak muda. Saya akan memulainya dengan pengalaman pribadi sebagai aktivis pers mahasiswa di awal tahun 1990-an dan refleksi atas perubahan yang terjadi pada tahun-tahun setelah 1998.
Tahun 1994-1998. Pada pertengahan 1990-an, paling tidak ada tiga jenis mahasiswa. Pertama, mereka yang aktif di berbagai gerakan mahasiswa (pada masa itu gerakan mahasiswa tersebar di kota-kota Indonesia, saling berhubungan satu sama lain, dan membangun jaringan) atau aktif di pers mahasiswa. Kedua, mereka yang aktif di kegiatan ekstrakurikuler olahraga dan seni (paduan suara, kelompok tari dan karawitan, judo, renang, selam, fotografi, dan sebagainya). Biasanya golongan ekstrakurikuler ini dikelompokkan di dalam satu tempat. Di Universitas Gadjah Mada, misalnya, mereka bisa dijumpai di area Gelanggang Mahasiswa. Ketiga, mahasiswa yang tidak mengikuti kegiatan apa pun, hanya kuliah saja.
Satu hal yang bisa diamati dari ketiga golongan itu adalah bahwa yang aktif di berbagai organisasi sosial politik, termasuk gerakan mahasiswa dan pers mahasiswa, tak terlalu memperhitungkan faktor kecepatan atau ketepatan waktu lulus. Banyak di antara mereka yang menyelesaikan kuliah dalam tempo yang cukup lama: 6-8 tahun, bahkan lebih. Sebutan buat mereka: mahasiswa abadi. Justru bukan karena mereka tak mampu menyerap materi kuliah—sebagian cemerlang, jelas terlihat dari artikel yang telah mereka hasilkan di media massa, atau kepiawaian berorasi di lapangan saat demonstrasi—tapi karena mementingkan “kematangan” selama masa kuliah. Ada memang kecenderungan berlama-lama dalam status mahasiswa karena dengan itu, mahasiswa berpeluang besar membuat perubahan, apalagi situasi sosial politik saat itu menuntut demikian. Lulus lebih cepat hanya kehendak mereka yang antipolitik, tak peduli pada lingkungan sekitarnya.
Mereka yang bergabung dalam pers mahasiswa saat itu biasanya sering disambungkan dengan gerakan mahasiswa sebab pers mahasiswa dikenal sebagai model pers penantang pers-pers umum, juga pers partisan karena isinya yang sangat politis. Tentu perkembangan demikian bukan tanpa asal muasal yang jelas. Ingat: dunia kampus saat itu dianggap sebagai tempat suci tempat semua orang bebas menyampaikan pikirannya dan saat itu pers umum sangat dikekang pemerintah.
Sebagai pers partisan, pers mahasiswa lebih bertitik berat pada opini. Karena itu, mereka tak begitu butuh teknik jurnalisme yang memadai. Namun, pada pertengahan 1990-an ada perkembangan kesadaran penulisan yang lebih baik. Umumnya tak ada yang memberi pelajaran khusus tentang teknik penulisan atau asas-asas jurnalisme. Semua dilakukan dengan asas “carilah semuanya sendiri”.
Pada tahun 1997 Institut Studi Arus Informasi (ISAI) mengadakan kompetisi media alternatif se-Indonesia. Kompetisi ini secara tak langsung mendorong keinginan membuat penulisan berita yang lebih baik di kalangan pers mahasiswa. Di surat kabar mahasiswa Bulaksumur, tempat saya dulu, ISAI juga membantu pelatihan penulisan jurnalisme investigasi.
Selain ISAI, lembaga lain yang aktif membangun jaringan dengan pers mahasiswa adalah Kompas melalui bantuan sponsor dan pelatihan penulisan teknik jurnalisme presisi. Kami menyadari bahwa setiap hubungan dengan elemen mahasiswa pada masa itu mungkin saja tak selalu tanpa diembeli maksud apa-apa. Hubungan dengan kedua lembaga tersebut ikut memengaruhi isi media alternatif kami karena dalam kurun 1997-1999, misalnya, banyak tulisan yang dibuat dengan model investigatif atau dengan teknik jurnalisme presisi.
Dalam pelaksanaan lokakarya, biasanya kami mendapat sponsor penuh dari institusi tersebut yang memungkinkan kami mengundang rekan pers mahasiswa dari Jakarta, Bandung, Malang, Solo, Semarang, Medan, Bandar Lampung, dan lain-lain. Tak ada kesulitan mengundang pers mahasiswa dari kota lain sebab sebelumnya telah terbangun jaringan di antara kami.
Secara teratur kami saling kirim edisi terbaru terbitan kami, saling berbagi pengetahuan tentang jurnalistik lewat diklat jurnalistik yang rutin kami lakukan. Selain membangun jaringan dengan sesama pers mahasiswa, kami juga membangun hubungan dengan kegiatan jurnalistik di kalangan SMA (karena itu juga sering dimintai bantuan mengisi lokakarya di sekolah-sekolah).
Mempertanyakan komunitas
Pemikiran yang tampak jelas jadi bahan pergulatan pers mahasiswa dari waktu ke waktu adalah persoalan di mana sebenarnya pers mahasiswa menunjukkan perannya? Di dalam kampus atau di luar kampus? Dari isi pers mahasiswa saat itu, tampak kecenderungan kuat ingin melampaui dinding-dinding kampus untuk menjadi pers nasional, sejajar dengan pers umum. Namun, persoalan khas media alternatif saat itu (keuangan, kebijakan kampus, lingkungan kehidupan mahasiswa secara umum) membuat pertanyaan “di mana kami ingin berperan?” semakin kencang, akhirnya membuat kebutuhan membuat model pers mahasiswa yang lebih memenuhi kebutuhan komunitas semakin mendesak.
Pertanyaan mengenai komunitas dianggap penting karena pers mahasiswa sebetulnya menyadari bahwa dia jauh dan berjarak dari komunitasnya. Tanggapan dari teman sesama mahasiswa tak banyak, hanya dari kelompok tertentu saja. Sebabnya, aktivis pers mahasiswa dalam beberapa hal boleh dibilang kelompok elitis (hanya mereka yang bisa menulis atau yang berkeinginan aktif di gerakan mahasiswa saja yang berminat bergabung atau mengikuti kegiatan-kegiatannya). Akhirnya ada desakan lebih berperan dan berarti bagi komunitas terdekatnya: lingkungan kampus.
Diskusi-diskusi mengenai “komunitas” ini semakin menguat dalam 1997-1999. Dalam tingkat yang lebih luas, mulai ada media dalam format sederhana yang lebih memfokuskan diri pada komunitasnya sendiri, misalnya Entho Cothot yang berisi isu terbaru kampung, pertukaran resep masakan para ibu yang tinggal di kampung tersebut.
Di tengah-tengah keadaan seperti itu lahir pula newsletter Gugat, yang dibuat tepat saat mahasiswa menemukan momentum gerakannya pada 1998. Gugat terbit pertama kali pada 25 April 1998 oleh semua penggiat pers mahasiswa yang saat itu menempati sekretariat bersama di lingkungan Bulaksumur. Gugat dijual seharga Rp 400 (sebagai pengganti ongkos fotokopi) dan terbit rutin sekali dua hari. Gugat mencerminkan gerakan mahasiswa masa itu. Isinya berita demonstrasi mahasiswa, isu terbaru gerakan mahasiswa, dan sumbangan teman sesama mahasiswa di luar kota. Edisi terakhir Gugat bertanggal 4 Juni 1998. Pada masa genting itu di beberapa tempat juga dijumpai media semacam ini, Bergerak! (Universitas Indonesia) dan Suga Alternatif (Universitas Airlangga).
Sebetulnya telah lama ada gagasan mengubah format SKM Bulaksumur menjadi lebih sederhana untuk menekan ongkos produksi dan membuat waktu terbitnya lebih terjaga demi terpeliharanya komunikasi dengan komunitas pembacanya. Namun, tak semua yang berani menjalankan gagasan itu. Barulah pada 8 Mei 2000, SKM Bulaksumur berubah dalam format yang benar-benar baru: newsletter, hitam-putih, awalnya empat halaman (dan terus bertambah sampai 16 halaman), terbit setiap minggu, dan didistribusikan gratis. Pada edisi pertamanya tertulis di editorial: Seiring perubahan besar dan mendasar yang terjadi pada Mei 1998, situasi pers nasional juga terkena dampaknya. SKM Bulaksumur harus melakukan adaptasi dan inovasi guna menjawab tantangan jaman. Sadar bahwa permasalahan sivitas akademika dalam kampus masih banyak yang belum terangkat apalagi terjawab tuntas, Bulaksumur pun segera bermetamorfosis menjadi media komunitas.
Sementara itu, pers mahasiswa lain, Balairung, mengubah dirinya menjadi jurnal berisi pemikiran ilmiah mahasiswa dan koran dinding yang berisi isu-isu di dalam kampus.
Bulaksumur Pos yang mulai terbit lima tahun lalu masih terbit sampai sekarang. Dalam bentuknya yang sekarang, Bulaksumur Pos menarik perhatian komunitasnya karena memuat rubrik iklan baris (berisi penawaran produk, ucapan selamat ulang tahun, dan salam kenal dengan sesama mahasiswa di fakultas lain) dengan tarif Rp 500 per baris, iklan kolom yang dijual Rp 20.000 per paket, dan rubrik “Ini Caranya” (berisi aneka tips cara menyewa gedung pertemuan di UGM, menyewa stadion kampus, dan cara mengakses pusat-pusat studi yang ada).
Edisi yang paling banyak dicari adalah ketika Bulaksumur Pos memuat berita mengenai kematian mahasiswa pencinta alam UGM di Gunung Slamet. Saat itu banyak rekan sekampus yang mendatangi sekretariat, sementara Bulaksumur Pos dicetak dalam jumlah tak banyak sehingga akhirnya harus difotokopi.
Gelombang baru
Mulai 1997 terdapat perubahan yang tak terlalu kelihatan, tetapi dalam tahun-tahun berikutnya mampu mengubah pandangan seseorang akan makna menjadi mahasiswa, pilihan-pilihan kegiatan yang ia tempuh di tengah kondisi sosial dan politik Indonesia yang nyata. Saat itu tampak kecenderungan pada mahasiswa untuk lulus lebih lekas. Di UGM, misalnya, hal itu ditunjang oleh perkenalan aneka model Kuliah Kerja Nyata (KKN): mulai dari KKN yang bisa dilakukan selama liburan semester (KKN Semester Pendek), KKN di dalam kota, sampai kuliah selama liburan semester (semester pendek) yang semuanya berujung mendorong mahasiswa lulus lebih lekas.
Lekas lulus dan segera mendapatkan kerja. Ini tentu pilihan yang masuk akal dalam situasi negeri dengan segala macam krisis. Namun, keadaan itu layak dirinci untuk memperlihatkan campur tangan resmi pemerintah (institusi pendidikan) mengangkat tingkat kelulusan mahasiswanya sekaligus menjauhkan mahasiswa dari urusan sosial-politik.
Pertengahan 1990-an adalah masa yang dengan mudah dapat digunakan menandai atau membedakan ideologi anak-anak muda Indonesia. Ketidakbebasan berpolitik membuat kelompok mahasiswa yang aktif di pers mahasiswa, gerakan mahasiswa, LSM-LSM, kegiatan seni dan olahraga, dan mereka yang hanya kuliah bisa dipetakan dengan jelas. Pertanyaannya, apakah pembagian itu sekarang dapat dijadikan patokan untuk menggambarkan mahasiswa pada masa kini?
Saat ini seorang anak muda bisa saja setiap minggu membaca Cosmo Girl, Ripple, dan macam-macam majalah independen lain, atau mungkin telah membuat majalah independennya sendiri. Ia bisa juga pendatang tetap rave party, pembelanja pakaian di distro-distro (distribution outlet), tahu semua band indie, mendengarkan The Strokes, sekaligus membaca novel-novel Pramoedya Ananta Toer dan berlangganan majalah Tempo. Jarak antara membaca Pramoedya sebagai bentuk kehausan akan ekspresi kebebasan berbicara (seperti bisa dilihat 6-10 tahun lalu) dan membaca Pramoedya sebagai bagian dari gaya hidup telah hancur.
Saat ini bisa disaksikan betapa hubungan antara gaya berpakaian, gaya berbicara, musik yang didengarkan, dan bacaan yang dikonsumsi telah kehilangan makna. Gambaran yang paling jelas terlihat terutama pada generasi yang lahir pada akhir 1970-an dan akhir 1980-an. Mereka tak mengalami secara langsung kolonialisme dan masa-masa awal pascakolonial. Mereka berhadapan langsung dengan produk kultural baru dan konsep baru bersamaan dengan posisi ekonomi dan kultural Indonesia yang terus-menerus berlari cepat dalam sistem global.
Paparan di atas menunjukkan bagaimana mahasiswa mengubah strategi penerbitan media mereka dan menciptakan taktik baru bagi ekspresi politik identitas mereka. Mulai tahun 2000 terdapat gelombang baru kemunculan media anak muda dengan ciri berbeda dari masa sebelumnya. Media baru itu biasanya dicetak sederhana atau difotokopi, dicetak dalam jumlah kecil dan didistribusikan melalui jaringan komunitas kecil sehingga menjadi semacam media pembelajaran bersama.
Dapat disaksikan keberagaman tema yang dikerjakan oleh media baru ini. Blocknote, Ajaib, Beni, dan Pagina adalah media yang berisi kumpulan puisi atau cerpen. Clea berisi kritik film, Ego!Scrapbook kumpulan esai dan gambar, 10:05 i kumpulan foto, profil klub, dan info rave party di Yogyakarta, Blow kumpulan esai, grafis, dan ulasan musik, Ripple berupa kumpulan ulasan musik, info tentang surfing, skateboard, esai desain, fashion.
Mes 56 dan Kitsch berupa newsletter foto dan esai seni visual, Rude dan Daging Tumbuh berisi kumpulan komik, Requiem kumpulan puisi, Momen Inersia kumpulan esai dan kritik atas kapitalisme dalam industri musik, ulasan musik. Shine berisi apa pun tentang musik, Revolver kumpulan esai tentang gaya hidup dan musik, Air Seni kumpulan esai seni, karya-karya seniman muda, ulasan musik, buku, dan film. Dalam banyak media baru ini juga bisa dilihat esai-esai yang sangat politis. Semuanya ditulis dengan gaya personal. Jelas terlihat adanya irisan antara seni visual, sastra, musik, dan kritik sosial politik dalam isi media tersebut, sekaligus menunjukkan konsumsi isu global yang intens oleh anak muda dalam berbagai aspek produk kebudayaan.
Menurut katalog media alternatif yang diterbitkan oleh Peniti Pink (Jakarta), sampai pada Februari 2004 saja terdapat 223 media yang dibuat oleh anak muda dari berbagai kota di Indonesia. Rata-rata para pembuat media baru ini adalah generasi yang lahir pada tahun 1980-an dan mulai kuliah pada tahun 2000-an. Mereka adalah generasi yang lahir pada zaman Orde Baru dan mulai kuliah ketika reformasi sudah lewat dan hanya bisa didengar lewat cerita orang atau dibaca lewat dokumentasi yang tertulis di media massa. Beberapa media baru itu mungkin tidak berumur panjang. Bisa dijumpai media yang hanya terbit satu atau dua kali dan para pembuatnya dengan mudah membuat lagi media lain. Saat ini dalam dunia sibernetis juga tumbuh banyak situs pribadi yang bisa dengan mudah dibuat dengan teknologi blog.
Paparan di atas memperlihatkan kebutuhan kuat untuk menunjukkan kepribadian sendiri. Sampai di sini jelas bahwa bagi anak muda, teknologi adalah jalur bebas untuk berekspresi dan berbuat apa saja. Tapi, sejauh ini tampaknya medium baru ini lebih banyak membuka ruang eksplorasi pada kebebasan yang terfokus pada diri sendiri. Sesuatu yang terfokus pada diri sendiri bukan cuma mengimplikasikan kebebasan diri yang ekstrem, tapi juga melahirkan kesan “senang-senang” dan “asyik-asyik saja”.
Sesudah 1998 kebingungan luar biasa menyergap anak muda. Berlangsung peralihan dari persoalan politik yang “besar” ke persoalan perayaan komunitas dan keberadaan diri. Kondisi selanjutnya menggiring saya pada pertanyaan: apakah semua “senang-senang” itu punya makna atau tidak. Mungkin juga semua kebebasan itu berujung pada perjuangan mendobrak sebuah kekuatan besar yang saat ini belum bisa dibahasakan dengan mudah oleh anak muda. Yang juga luar biasa sulit ditangkap adalah batas-batas penanda antara perilaku, gaya hidup, dan ideologi pada diri anak muda sekarang.
Nuraini Juliastuti Pekerja pada KUNCI Cultural Studies Center, Yogyakarta