22nd Sep, 2008

Jogja, pada Senja yang Serba Sambal (SS)

Dari buka bareng mantan pegiat pers mahasiswa UGM di Yogya

Berburu adzan di Senja hari. Aktivitas itulah yang menjadi favorit banyak orang di sepanjang Ramadhan. Saat kelelawar terbang dari sarang mencari penghidupan, saat segala tanduran mengganti nafasnya dengan menghirup oksigen sebagaimana manusia, kita merapat dalam buka puasa dan lahap dengan santapan kita. Senja adalah titik yang kritis, di mana segala demit merayap pelan, segala kekuatan negatif memancar ke seluruh cakrawala, santet-santet mencapai puncak kekuatannya, dan jiwa kita semua sedang rumpang sebagai manusia. Bukankah sejak purba, senja begitu ngungun dan ngelangut? Barangkali kita menanti candik-ayu, atau barangkali malah candik-ala yang akan menimpa. Kertas hidup memang begitu tipis, dan kita semua bisa robek kapan pun, di manapun.

Ada yang berburu adzan di rumahnya, ada yang berburu adzan di masjid-masjid, ada yang berburu adzan di berbagai tempat yang menyediakan fasilitas buka bersama, ada yang berburu adzan yang bergaung di bukit-bukit jauh. Itu bagi mereka yang ‘benar-benar puasa’. Atau, pada mereka yang sudah tak mementingkan puasa fisik, semoga lantas tetap menggantinya dengan ritus puasa batin, tetap juga melewatkan waktu bersama banyak orang, berburu adzan juga di senja hari dalam acara buka puasa bareng. Seakan, di ramadhan, maghrib telah menjadi titik waktu yang sangat penting. Bahkan, di Ramadhan, barangkali, Maghrib telah menjadi waktu yang diidolakan oleh siapa saja. Bagi yang puasa, Maghrib adalah saat untuk melepaskan diri dari kungkungan lapar dan haus. Bagi yang indekost, ketika sedang kekurangan uang, Maghrib di masjid adalah sebuah solusi untuk menyambung hidup. Bagi yang pengangguran dan kesulitan makan karena sering digerus kekurangan ekonomi, maghrib merupakan penambal dan penghibur yang luar biasa. Bagi yang sering kesepian, berburu maghrib di masjid beramai-ramai merupakan cara untuk lepas dari derita sunyi yang berkepanjangan. Bagi yang suka jalan-jalan sore hari, bersama pacar atau isteri, berburu adzan senja hari merupakan kesempatan untuk membangun suasana kebersamaan yang barangkali jarang dilakukan di luar Ramadhan.

Kita semua memang pilih kasih terhadap bulan Ramadhan. Kita sangat memanjakannya. Ramadhan menjadi terlalu cantik dibanding bulan-bulan yang lain. Ramadhan menjadi sangat spesial. Hingga kita semua takluk untuk mengganti seluruh suasana hidup kita sehari-hari, bahkan menyempurnakan ketaklukan kita dengan pulang ke pangkuan kampung halaman. Ramadhan menjadi terlalu luar biasa dengan puncaknya, ketika kita harus ujung, saling maaf memaafkan, bahkan berpesta pora hilir mudik di awal Syawal. Toko-toko roti menjadi laris. Pusat perbelanjaan menjadi berbahagia karena target penjualannya di atas rata-rata. Pom-pom bensin menjadi sangat ramai dikunjungi. Tiba-tiba, semua sudut dalam hidup kita menjadi identik dengan pesta. Zakat juga bertebaran di mana-mana, sampai banyak orang berebutan hingga ada 21 manusia yang meregang nyawa di Pasuruan. Setelah kita menjalani derita fisik sebulan penuh, lebaran menjadi titik untuk melepaskan diri dari keprihatinan. Seakan, kita lupa pada keprihatinan bangsa ini yang beberapa di antara manusianya tak terurus sandang pangannya. Bahkan, kita semua pesta dan melupakan tumpukan utang luar negeri Indonesia. Atau, kita sederhanakan saja, agar itu semua dipikirkan SBY bersama seluruh awaknya. Kita menjadi sangat pemaaf di bulan-bulan ini, sampai-sampai memaafkan segala kesalahan SBY, DPR, atau banyak pejabat pemerintah yang telah membuat kebijakan yang mencekik leher kita semua. Betapa luhurnya jiwa kita dengan menjadi sangat pemaaf terhadap apapun. Dalam suasana mati segan hidup tak mau pun, dicekik oleh saudara sebangsa sendiri, kita masih bisa tertawa dan berbuka bersama. Betapa aneh konstruksi psikologis kita dengan itu semua.

Senja sangat serupa dengan masa tua. Masa matang. Makanya, ketika senja, di ramadhan, banyak masakan yang telah matang dan siap saji untuk semua. Barangkali, kenapa buka puasa itu diselenggarakan pada saat senja, adalah agar kita menjadi matang sebagai manusia. Agar jiwa kita menjadi tua, murih padhanging sasmita, tansah eling lan waspada sebagaimana pesan Ronggowarsito.

Dan senja tanggal 21 September 2008 lalu, menjadi sangat memukau dengan kebersamaan yang terbangun ketika segenap alumnus b21 ajur-ajer dalam suasana buka puasa yang tertaja di trotoar warung Serba Sambal, Sagan, Yogyakarta, dengan dilingkupi teduhnya pohon-pohon rindang. “Yang jelas, kita lebih duluan satu hari dibanding acara buka puasa anak-anak b21 Jakarta,” bangga Sri Naida, alumnus b21 yang sekarang di Indonesian Partnership. Ia teman seangkatan pak Nutze yang sekarang di Jurnal Nasional.

Barangkali, nada bicara yang dikatakan Naida adalah symbol dari tidak harmonisnya antara daerah dengan pusat, salah satunya antara Jogja dengan Jakarta. Barangkali, tandingan acara buka puasa di Jogja ini adalah jerit protes atas Jakarta yang selalu berbuat ulah, lantas daerah kena imbasnya. Sejak dari ulah kenaikan BBM, kenaikan harga bahan pokok, bibit padi Super Toy (artinya kan mainan, makanya rakyat memang dipermainkan nasib hidupnya dengan gabah konyol), skandal Blue Energy, BLBI, kejahatan korupsi, hingga komodifikasi di semua bidang karena doktrin moralitas industri yang membuat hidup kita menjadi serba duit,…duit,….dan duit…….daripada mikirin duit mendingan do it! Barangkali pula, ungkapan Naida menjadi representasi dari kekesalan masyarakat Jogja atas status keistimewaan yang tak jelas juntrungnya. Entah itu salah Sultan yang plin-plan atau SBY yang menjadi Bisa (ular) kita bersama. Bukankah ‘bisa’ itu adalah racun yang sangat mematikan? Kenapa kita malah memilihnya 5 tahun yang lalu? Saat ini, Jogja banyak diplesetkan menjadi Jog yaaa?! Artinya, tambah minum ya? Makanya banyak warung teh poci yang mengisi relung-relung kota Jogja. Sedangkan Jakarta akan saya plesetkan menjadi Jakar taaaa? Bayangkan seandainya huruf J dalam kata itu saya ganti menjadi Z? Apa saya tak akan dikejar-kejar polisi karena melanggar RUU anti pornografi yang mendesak untuk disyahkan?

Tapi, di luar semua kebangsatan (bukan kebangsaan) yang saya hembuskan di atas, alumnus b21 tetap bisa hi ha hi hi di warung SS. Ada sekitar 30-an lebih manusia yang ambyur bersama dalam keremangan senja yang Serba Sambal. Kami semua membangun riuh-rendah ngobrol dan diskusi, meski tanpa kopi Starbucks yang hangat di Cilandak Town Square (CITOS) Jakarta Selatan. Suasana telah demikian hangat di tepi jalan Sagan, tanpa harus membeli menu mahal di Kafe Kemang, atau tak perlu Nunut Mukti dengan berbuka di Paramadina yang sekarang dikomandani Anies Baswedan. Kami sudah cukup merasa menjadi bagian dari bangsa yang bangkrut ini dengan bercengkrama menatap lalu lalang mahasiswi yang berasrama di Sagan. Acara buka puasanya pun tanpa konsep yang jelas, tapi nyatanya jalan. Sangat improvisatoris. Tanpa pesan catering. Tanpa ada panitia penyelenggara. Cukup dengan undangan SMS dan email di milis. Pokoknya ngumpul di b21 jam 4 sore, lantas milih tempat makan di mana, terserah. Ditentukannya ketika kumpul. Benar-benar sebuah manajemen yang Ndeso, sebagaimana kota jogja yang tetap selalu diharapkan sebagai kota Ndeso yang tanpa dikotori oleh industri-industri besar. “Ini benar-benar acara buka puasa yang paling aneh,” kata Hamcrut yang datang bersama istrinya, mbak Pedy. Tapi, bukankah segala yang dikonsep dan ditata dengan sangat rapi, tak menjamin adanya hasil yang baik? Lihat saja Jakarta. Banyak orang pandai dan berjiwa manajer, tetap saja peradaban yang dibangun sangat semrawut.

Bagaimanapun aneh dan konyol, senja itu menjadi semakin berwarna dengan kedatangan Bekti Lincah yang baru saja pulang dari Inggris setelah menyelesaikan S2-nya, Kelik fotografer yang Begawan, Among Kurnia Ebo yang selalu berapi-api, Asep Mulyana sang Ideolog 98 yang akan berangkat S2 ke Belanda, Fathurrahman yang telaten dan bersahaja dalam aktivitas jurnalistiknya, Sri Naida yang membawa anaknya yang masih Playgroup, Pengantin Baru Hamcrut-Pedy yang mungkin masih honey-moon, Heru wartawan harian Jogja, Idha Saraswati sang wartawan Kompas, Irfan Afifi sang Peneliti Melayu, Rofi yang suntuk dengan kesufiannya, bahkan segenap adik-adik aktivis Persma yang menghidupkan B21 dengan nyala semangatnya.

Dalam buka puasa itu, semua saling memperkenalkan diri, berjabat tangan, dan merasa bahwa semua satu keluarga. Sehingga Ebo dan Bekti sangat bersemangat menawarkan bimbingan agar adik-adik b21 menjadi lebih maju, lebih erat dalam berjaringan, dan mencoba mengatasi kesulitan berorganisasi secara bersama. Tapi, agaknya, banyak adik-adik yang masih diam. Mungkin mereka kelewat hati-hati dan bijaksana, sehingga masih perlu mempertimbangkan sesuatu. Dan itu positif! Inilah yang membedakan antara buka bersama persma Jogja dengan Jakarta. Ada niatan untuk regenerasi pemikiran dan strategi dengan adik-adik. Jakarta tak memiliki adik-adik (kalau dalam asumsi Ebo dan Naida yang sudah tua bukan lagi adik, melainkan Keponakan-Keponakan) yang masih belajar. Buka puasa Jakarta hanya mengumpulkan aspek kangen-kangenan antar alumnus yang kemudian berjaringan. Adanya buka puasa aktifis persma di Jogja adalah adanya karnaval interaksi yang multi dimensi. Barangkali juga, dengan adanya pertemuan rutin pada buka puasa bersama Jogja selanjutnya tahun depan, akan menjadi reuni rutin, sehingga bisa juga dibuat direktori alumnus persma secara lebih rigid, lantas tercipta upaya saling gayung bersambut dalam mengarungi hidup. Jaringan kerja pun bisa semakin erat dengan adanya reuni dan pencatatan nama-nama alumni b21, bukan? Saya yakin akan banyak manfaatnya.

Segala menu kami pesan dengan menu yang serba ndeso juga. Dari ikan wader, bawal, nila, cumi, sampai rajangan ikan hiu, semua kami pesan. Dari lauk bothok teri sampai gudangan, kami suapkan ke mulut. Meja-meja tiba-tiba berbau ladang, sungai, dan laut. Begitu asri, toto titi tentrem kertoraharjo. Benar-benar seperti suasana Pesta Ulang Tahun!!!!!!

Maka, untuk tahun-tahun ke depan, adanya buka puasa aktivis persma versi Jogja sangat layak untuk terus diadakan. Ada banyak makna dan manfaat, tentunya. Dalam suasana yang pedas dan panas di warung Serba Sambal, seluruh hati kita semoga semakin rindang, dan silaturahmi kita terus melebar dan mencair.

TZ
Mantan Aktivis Persma yang selalu menemukan senja di dalam hatinya sendiri.

Responses

wah, baru tahu saya adanya site ini. mau dong link blog saya dipasang, hehehe…

Saya malah gak diundang, hiks

Leave a response

Your response:

Categories